Indonesia
Masyarakat Indonesia termasuk masyarakat yang multikultural. Hal ini terbukti di Indonesia memiliki banyak suku bangsa yang masing-masing mempunyai struktur budaya yang berbeda-beda. Suatu masyarakat dikatakan multicultural jika dalam masyarakat tersebut memiliki keanekaragaman dan perbedaan.
Keragaman dan perbedaan yang dimaksud antara lain, keragaman struktur budaya yang berakar pada perbedaan standar nilai yang berbeda-beda, keragaman ras, suku, dan agama, keragaman ciri-ciri fisik seperti warna kulit, rambut, raut muka, postur tubuh, dan lain-lain, serta keragaman kelompok sosial dalam masyarakat. Karena adanya perbedaan inilah masyarakat Indonesia dituntut untuk memeliki rasa bersatu dan toleransi terhadap sesama untuk mengurangi kemungkinan konflik dengan yang lain.
Cina
Negara “Republik Rakyat China” memiliki ciri-ciri berkulit putih, bermata sipit, dan memiliki tubuh standard orang Asia yang tidak begitu tinggi dan besar seperti orang Eropa, akan tetapi mereka memiliki karakteristik berusaha, cepat berpikir dan pantang menyerah. Karakteristik inilah yang dapat mengubah negaranya yang sebelumnya berada di urutan negara miskin berubah menjadi negara yang memiliki tingkat ekonomi yang cukup tinggi di bidang pasar Dunia karena pemerintah mereka sadar betul jika badan usaha akan sangat mempengaruhi dan membantu perkembangan perekonomian suatu negara. Salah satunya dengan kemampuan meraka meniru produk Dunia yang di buat dan di bentuk sangat mirip dan di pasarkan dengan harga yang lebih murah dari produk asli membuat produk buatan meraka laku keras di pasaran bahkan hampir melebihi produk asli itu sendiri.Naga bagi bangsa China merupakan simbol produktivitas dan pembaruan sehingga memiliki pengaruh baik dan positif terhadap seluruh makhluk hidup di dunia. Juga, lambang kebesaran dalam budaya Tionghoa. Sang naga dikatakan sukses jika ia berhasil menyeimbangkan antara kerja keras (hard work), kerja cerdas (smart work), ditambah bekerja dengan hati yang ikhlas (heart work).
Jepang
Kesadaran Kelompok dan Kerja Keras
Pada umumnya orang sering menyebutkan bahwa orang Jepang suka bekerja keras, suka berkelompok, dan sebagainya. Begitu asyik dengan pekerjaannya sehingga orang Jepang suka lupa waktu. Di perusahaan-perusahaan kurang terdengar suara keberatan untuk kerja lembur. Hal tersebut didorong oleh rasa tanggung jawab dan semangat kelompok. Orang Jepang pada umumnya cenderung kuat rasa keterikatannya terhadap kelompok di mana dia berada, terutama perusahaan tempat kerjanya. Bilamana perusahaannya menghadapi masalah atau tugas yang mendesak dan harus segera dituntaskan, maka para karyawan merasa terpanggil untuk ikut memikul beban kerja bersama-sama, dengan mengesampingkan kepentingan dan kesenangan pribadinya.Bushido:Bushido adalah etika moral bagi kaum samurai. Berasal dari zaman Kamakura (1185-1333), terus berkembang mencapai zaman Edo (1603-1867), bushido menekankan kesetiaan, keadilan, rasa malu, tata-krama, kemurnian, kesederhanaan, semangat berperang, kehormatan, dll. Aspek spiritual sangat dominan dalam falsafah bushido. Dalam semangat bushido, seorang samurai diharapkan menjalani pelatihan spiritual guna menaklukkan dirinya sendiri, karena dengan menaklukkan diri sendirilah orang baru dapat menaklukkan orang lain. Kekuatan timbul dari kemenangan dalam disiplin diri.Budaya Senyum:Tidak hanya dalam keadaan senang atau gembira orang Jepang tersenyum, dalam keadaan yang memilukan hati pun orang Jepang bisa tersenyum. Seperti juga sikap membungkuk atau bersimpuh memberi hormat, tersenyum juga merupakan sikap untuk menyenangkan dan sekaligus menghormati orang yang diajak bicara atau dihadapi. Sikap demikian adalah wajib bila orang Jepang menghadapi orang tua, atasan, teman, dll., terutama orang yang harus dihormati.
Sumber Referensi dan Inspirasi:
Tidak ada komentar:
Posting Komentar